Sering Dikira Sakit Kelamin, 12% Wanita Sebenarnya Punya Alergi Sperma

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

Jakarta, Sebuah penelitian mengungkap alergi sperma sebenarnya tidak selangka yang dipikirkan selama ini. Diperkirakan 12 persen perempuan mengalami gangguan ini, namun sering dikira penyakit kelamin karena gejalanya kadang susah dibedakan.

Dr Michael Carroll, pengajar ilmu kesehatan reproduksi dari Metropolitan University, mengatakan perempuan usia 20-30 tahun paling rentan mengalami alergi sperma. Pada usia ini, gejala bisa muncul seketika atau tertunda 1 jam sejak kontak dengan cairan sperma.

Gejala yang muncul bervariasi, mulai dari iritasi ringan, gatal-gatal, nyeri saat buang air besar dan eczema hingga yang paling parah bisa memicu reaksi alergi yang fatal. Dalam beberapa kasus, reaksi alergi bisa memicu shock anafilaksis yang berbahaya.

Pada gejala yang ringan, alergi ini sering diabaikan karena dianggap biasa. Bahkan beberapa dokter sering mengiranya sebagai gejala dermatitis dan kondisi lain termasuk infeksi menular seksual karena gejalanya hampir mirip yakni gatal-gatal.

Dalam penelitiannya, Dr Carrol menemukan 4 perempuan yang memiliki alergi sperma. Hasil tes sensitivitas kulit dan pemeriksaan riwayat kesehatan menunjukkan, para pasien tidak memiliki penyakit tertentu dan bisa dipastikan bawa gatal-gatal yang dialaminya adalah karena alergi sperma.

Namun dikatakan oleh Dr Carroll, penyebab alerginya bukanlah sperma itu sendiri melainkan glikoprotein yang berasal dari prostat. Sampel sel sperma yang terisolasi tidak menyebabkan alergi, sementara cairan pembawanya dapat menyebabkan gatal-gatal.

Itu berarti, seseorang yang punya alergi terhadap cairan sperma kemungkinan akan mengalami alergi juga terhadap sampel sperma siapapun juga. Dalam kondisi seperti ini, berganti pasangan tidak akan menyelesaikan masalah karena pasti tetap akan mengalami alergi.

"Tidak hanya mengalami reaksi alergi dan ketidaknyamanan secara fisik, penderita HHS (hypersensitivity to human semen) juga mengalami stres emosional karena dampaknya terhadap hubungan dan rencana untuk punya keturunan," kata Dr Carroll, seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (12/6/2013).

Kabar baiknya, perempuan dengan HHS (hypersensitivity to human semen) masih tetap bisa punya anak. Jika yang memicu alergi adalah cairan pembawanya, maka dengan teknik tertentu sel sperma bisa diisolasi untuk dikawinkan dengan sel telur melalui pembuahan berbantu.

(up/vit)

12 Jun, 2013


-
Source: http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/2d2a7897/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A60C120C1125270C22710A760C1390A0Csering0Edikira0Esakit0Ekelamin0E120Ewanita0Esebenarnya0Epunya0Ealergi0Esperma/story01.htm
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com